Kaleidoskop Pemerintahan 10 Tahun Jokowi
Apa yang menarik dari penyampaian nota keuangan RAPBN mendatang pada 16 Agustus 2024 yang lalu? Tidak terasa hampir 10 tahun Jokowi memerintah negara ini. Tidak mungkin memang, bisa memuaskan semua pihak pemerintahan rezimnya. Tapi bagi penulis, pasti ada sisi positif seseorang yang selalu kita ingat kapanpun kita mengenang kepemimpinannya
Tulisan ini tidak menyoal soal politik pemerintahan Jokowi, tetapi lebih mengedepankan sisi keberhasilannya dan kritik terhadapnya. Tidak ada yang sempurna di dunia ini. Pasti ada cacat di sana-sini.
Beberapa pertimbangan keberhasilan Jokowi antara lain: Satu, lebih berani menarik investor ke Indonesia. Selama pemerintahannya, Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mencatat selama dua periode kepemimpinan Presiden Joko Widodo atau Jokowi pada 2015-2023, tren realisasi investasi cukup positif. Sebagai catatan, realisasi investasi di Indonesia mencapai Rp1.418,9 triliun pada 2023. Investasi ini hasilnya begitu real (nyata), misalnya proyek kereta api Woosh dari Tiongkok. Jakarta-Bandung bisa ditempuh dalam 45 menit, hal ini tidak kita sangka sebelumnya. Berbagai jalur tol yang di bangun di berbagai wilayah di Indonesia telah mempersingkat waktu tempuh. Bahkan hampir 80% proyek pembangunan IKN hampir rampung saat rezim ini akan habis.
Sebelumnya, beberapa presiden terkena bayang-bayang generasi yang baru dilahirkan akan menanggung hutang sebesar belasan hingga puluhan juta rupiah ketika dilahirkan di bumi pertiwi. Sehingga kita bisa menyaksikan investasi begitu lambannya dan tidak terealisasi di masa pemerintahan presiden sebelum Jokowi.
Dua, keberanian bersikap secara diplomatis di hadapan dunia internasional. Dalam berbagai kasus internasional, Indonesia menunjukkan sikapnya yang tegas. Misalnya dalam konflik Palestina-Israel di jalur Gaza. Indonesia secara tegas memihak Palestina dan mengirimkan bantuan kemanusiaan. Orang bisa melihat sikap tegas Indonesia di Sidang PBB mengenai pembahasan kasus ini. Sikap ini menunjukkan kejelasan posisi Indonesia dalam penyelesaian kasu-kasus konflik hubungan bilateral maupun multilateral.
Tiga, keberanian untuk mengurai beragam permasalahan ibukota Jakarta melalui pendirian IKN (Ibu Kota Nusantara). Upacara 17 Agustus 2024 yang diadakan di IKN menandai bahwa IKN siap menjadi ibu kota negara RI. Berbagai infrastruktur IKN dikebut, tidak ada yang menyangsikan bahwa IKN adalah proyek besar Jokowi dalam hal ini. Tentu saja pemerintahan mendatang, Prabowo-Gibran, siap meneruskan tongkat estafet penggunaan IKN sebagai ibu kota nusantara.
Keempat, atlet nasional yang berprestasi di tingkat internasional bisa merasakan atmosfer apresiasi seluruh elemen bangsa maupun pemerintahan Jokowi lewat bonus yang diberikan. Semua orang yang berprestasi merasa dihargai. Ada yang baru di Jaman Jokowi, atlet disabilitas mendapatkan bonus yang setara dengan atlet lainnya. Diharapkan hal ini memotivasi talenta-talenta bangsa lainnya untuk berprestasi.
Tak Ada Gading yang Tak Retak
Tetapi harus diingat bahwa di balik beberapa keberhasilan ini, terdapat beberapa “cacat” Jokowi di masa pemerintahannya. Pertama, keberanian menarik investor luar negeri menimbulkan prejudice bahwa utang kita semakin menumpuk. Memang, dalam pidato Rancangan APBN 2025 dan Nota Keuangan di Gedung DPR/MPR, Jumat (16/8), Jokowi menyatakan per Juli 2024, utang pemerintah menembus Rp 8.502,69 triliun. Namun harus diingat, selama kepemimpinan Jokowi, rasio utang Indonesia menjadi salah satu yang terbaik di antara negara-negara G20 dan ASEAN. Dalam kesempatan yang sama, Jokowi pun menerangkan, pertumbuhan ekonomi Indonesia selalu terjaga di atas 5%. Pertumbuhan tersebut lebih tinggi dibanding rata-rata pertumbuhan global.
Dua, kutu loncatnya Jokowi setelah menjadi presiden berhasil menjalankan politik dinastinya. Misalnya, Gibran menjadi wakil presiden yang didukung oleh Koalisi Indonesia Maju (KIM) bersama musuh bebuyutannya, Prabowo, Kaesang menjadi Ketua Umum PSI. Bobby Nasution didukung sejumlah parpol di Sumut untuk meju sebagai gubernur. Ontran-ontran mundurnya Airlangga Hartarto sebagai Ketua Umum Golkar akibat cawe-cawenya Jokowi. Ini dilakukan anehnya di akhi-akhir pemerintahan Jokowi. Artinya, orang bisa menyebut, “Nah ini baru ketahuan belangnya.” Tepatlah apa yang dikemukakan Lord Acton dengan adagium power tends to corrupt, and absolute power corrupts absolutely (kekuasaan cenderung untuk menjadi korup, kekuasaan yang mutlak akan melakukan korupsi secara mutlak pula. Pelajarannya, batasilah kekuasaan pemimpinmu agar tidak menjurus ke kesewenang-wenangan.
Ketiga, dampak investasi besar-besaran diklaim banyak pihak menimbulkan kerusakan lingkungan di sana-sini. Misalnya sorotan Greenpeace atas pengelolaan sumber daya alam melalui hilirisasi untuk mencapai nilai tambah ekonomi di industri nikel, tembaga dan lain-lain, masa depan ekonomi hijau dan transisi energi yang berkeadilan. Organisasi lingkungan berjejaring internasional ini menuding proyek hilirisasi menyisakan banyak masalah antara lain kerusakan lingkungan, kemiskinan masyarakat lokal, serta kerugian negara. Sebagai contoh, hilirisasi nikel di Morowali dan Halmahera Tengah memang berimplikasi pada pertumbuhan PDRB daerah, tetapi pertumbuhannya tidak berkelanjutan serta memiliki dampak kesehatan yang signifikan bagi masyarakat sekitar. Sejumlah proyek pembangunan sebagai realisasi investasi kerap dianggap sebagai proyek mercusuar. Di balik menterengnya proyek itu, sejatinya tidak bisa dinikmati oleh seluruh rakyat Indonesia. Hanya untuk golongan dekat, dan kaya yang bisa menikmati. Garuda, gagah di luar, remuk di dalam.
Inilah beberapa kaleidoskop yang sebagian penulis kemukakan. Tentunya masih banyak anggapan lain tentang cacat atau tidaknya Jokowi ini. Selanjutnya penulis kembalikan ke pembaca untuk menilai sendiri bagaimana rezim ini menjalankan kekuasaannya. Kesempurnaan hanyalah milik Tuhan YME.***
Yayan Sakti Suryandaru | Dosen Departemen Komunikasi, FISIP Unair, Surabaya



Tinggalkan komentar