Jangan Ciptakan Fobia pada Teknologi

Yayan

0 Comment

Link

Jangan Ciptakan Fobia pada Teknologi

Menarik untuk dicermati, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifatul Choiri Fauzi mengusulkan tugas sekolah tak lagi diberikan oleh para guru melalui gadget kepada para siswa, melainkan secara manual. Pemberian tugas oleh sekolah tidak hanya dikurangi lewat gawai atau handphone, tapi kemudian dilarang! 

Jadi yang disalahkan adalah perkembangan teknologi. Padahal, perubahan teknologi adalah sebuah keniscayaan yang tidak bisa kita hindari. Kapanpun dan di manapun, kita akan selalu menghadapi perkembangan teknologi yang begitu cepat. Banyak contoh bagaimana kita begitu tergagap-gagap saat memesan layanan ojek online, pada saat awal kemunculannya. Penumpang dan pengemudi ojek online begitu ketakutan terhadap pengemudi ojek pangkalan. Tak jarang, sejumlah pengemudi ojek pangkalan begitu marah dan beringas, bahkan memukuli pengemudi ojek online. Mereka tidak rela para penumpang memesan lewat aplikasi.

Kini semua telah berubah, nyaris seluruh aspek kehidupan berkaitan dengan aktivitas online. Bahkan cara memesan dan tren mengkonsumsi makanan pun berubah. Kita bisa memesan lewat aplikasi yang ada, dan tak lama kemudian makanan minuman tersaji di hadapan kita. Saat ini teknologi sudah ada di genggaman kita, memudahkan memesan kamar hotel, tiket kendaraan umum, menonton film di bioskop, menonton konser, apapun bisa dilakukan secara daring. Ini membuat orang mager, alias malas gerak. 

Namun, tak jarang aktivitas online bisa mengecewakan rasa kecewa kadang muncul saat barang yang dipesan tidak sesuai dengan harapan kita. Itulah plus-minus pemesanan barang secara online. Sebuah kondisi yang begitu biasa pada abad ini.

Bijak Teknologi

Apa yang Menteri PPPA ini akan menciptakan “fobia” teknologi baru. Seolah-olah teknologi adalah sesuatu yang menakutkan dan perlu dihindari. Bukannya mengharapkan para siswa dan orang tua lebih bijak dalam penggunaan teknologi. Kita malah menciptakan suatu monster yang menakutkan bagi siswa. Penolakan ini bisa membuat kita malu di hadapan masyarakat internasional.

Sejatinya anak-anak dan orang tua bisa dihimbau, atau pihak sekolah bisa membuat sistem yang berkaitan kebijakan pemakaian teknologi. Bisa saja berupa larangan mengakses konten di luar materi pembelajaran, atau jadwal pemberian tugas melalui gadget yang diatur oleh sekolah. Jadi para siswa mengakses teknologi hanya untuk keperluan pengerjaan tugas. Persoalan anak-anak memanfaatkan gadget untuk bermain atau mem-browsing konten yang tidak sepantasnya bisa dihindari. Artinya akan kelihatan mana yang mengerjakan tugas dan mana yang tidak. Jadi sebuah perubahan teknologi tidak harus dihindari. Lebih bijaklah dalam menggunakannya.

Perlu diakui, Innovator teknologi ini adalah generasi kita, tapi yang lebih piawai memakainya adalah gen Z. Mereka adalah para digital native yang lebih akrab dengan dunia maya. Jadi berikanlah tugas yang memberikan kesempatan mereka mengakses konten positif dari gadget yang ada. Ini akan lebih bijak daripada melarang penggunaannya.

Kita bisa mencontoh negara lain yang memberikan tugas melalui gadget dengan menetapkan aturan yang ketat. Pemerintah Italia memperbolehkan penggunaan gadget untuk penyandang disabilitas demi keberlangsungan Pendidikan. Sementara pemerintah Swedia sempat menerapkan pendekatan Pendidikan serba digital pada 2009, namun awal tahun ini Swedia kembali menggunakan buku teks cetak di ruang kelas, alih-alih menerapkan pendekatan serba digitalnya.

Di negara tersebut terlihat pemerintah berupaya memfasilitasi siswa agar piawai memanfaatkan informasi di dunia maya melalui gadget mereka. Mereka diharapkan mampu memilih dan memilah informasi yang bermanfaat dan dapat dipercayai. Situasi ini berbeda dengan di Indonesia, di mana para siswa masih gagap sehingga mereka cenderung lebih menikmati menggunakan gadget daripada mendengarkan penjelasan guru.

Agenda ke Depan

Apa yang bisa kita antisipasi untuk memperbaiki kondisi ini? Ada beberapa lagkah yang bisa kita lakukan. Kesatu, menjadwalkan pemberian tugas pada jam belajar siswa dan pada saat mereka berada di sekolah. Waktu-waktu yang tertentu ini akan membuat rutinitas, terjadwal untuk mengkonsumsi gawainya. Artinya, kontraproduktif penggunaan gadget ini bisa dihindari. Penggunaan gadget seperlunya, hanya untuk mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru bisa kita ciptakan. 

Gadget bisa menjadi media yang benar-benar dimanfaatkan untuk kepentingan kegiatan belajar-mengajar. Sekali lagi, kita tidak perlu menghindari tetapi lebih arif dan bijaksana dalam penggunaan gadget. Gadget diciptakan untuk mempermudah rugas atau pekerjaan manusia, bukan sekedar sarana bermain atau refreshing. Jika kita sudah bisa memanfaatkan teknologi handphone, maka kita sudah bisa memasuki abad baru teknologi.

Kedua, Para guru perlu memberikan reward (hadiah) bagi siswa yang mampu mengerjakan tugas lewat handphone. Reward ini perlu difasilitasi sekolah, menyediakan anggaran khusus sebagai bagian dari fasilitas belajar. Hal ini bisa merangsang keinginan siswa mengerjakan tugas dengan memanfaatkan teknologi. Hadiah tidak perlu berupa sesuatu yang konsumtif, bisa saja berupa buku yang berisikan pendalaman materi tugas yang diberikan sebelumnya.

Ketiga, Kita sedang memasuki abad teknologi, lebih bijaklah dalam mengkonsumsi teknologi itu. Sesuatu yang baru perlu kita pelajari dulu plus minusnya. Jika dimungkinkan kita bisa menggali potensi diri lewat pemanfaatan teknologi. Memanfaatkan teknologi lebih berguna daripada menghindari, atau bahkan menolaknya mentah-mentah. Jadi, lebih dewasalah beradaptasi dengan perkembangan jaman!***

Yayan Sakti Suryandaru | Dosen Departemen Komunikasi, FISIP Unair, Surabaya

Tags:

Share:

Related Post

Tinggalkan komentar