Determinisme Teknologi Mengubah Pakem Lebaran

Yayan

0 Comment

Link

Determinisme Teknologi Mengubah Pakem Lebaran

Ada sejumlah tradisi Lebaran yang acapkali kita temui di masa lalu yang masih saja kita temui, saling berkunjung memberikan ucapan Idul FItri dan saling memaafkan. Sambil bersalam-salaman, kadang mereka saling menikmati hidangan yang disediakan oleh tuan rumah. Tuan rumah juga selalu menyediakan uang angpau bagi mereka yang mengikuti orang tuanya halal bihalal, bahkan inilah yang menjadi tujuan utama mereka mengikuti sang orang tua berkeliling dari rumah ke rumah. Dari uang angpau inilah anak-anak bisa membeli beragam barang yang diinginkan.

Tradisi ini mulai hilang dari peredaran, determinisme teknologi, atau ketergantungan pada keberadaan teknologi informasi dan komunikasi telah mengubah tradisi ini. Orang lebih suka mengucapkan Minal Aidin Wal Faidzin lewat WA, X, Facebook, Instagram atau medsos lainnya. Medsos memang menjadi media terpopuler di Indonesia. Data Digital Indonesia 2024 dari We Are Social & Meltwater menunjukkan sebesar 97,8% dari 278,7 juta penduduk Indonesia mengkonsumsi media sosial dalam kehidupan sehari-hari, dengan rata-rata durasi selama 3 jam dan 11 menit per hari. 

Apa yang salah dengan fenomena ini? Tidak ada yang salah, tapi ini adalah sebuah keniscayaan. Kita tidak bisa menghindari atau mengubah perkembangan teknologi ini. Masih ingat fenomena ojek online melanda negara ini? Di beberapa daerah terjadi pemukulan, unjuk rasa, penghadangan terhadap pengemudi ojek online oleh serombongan pengemudi ojek konvensial. Mereka lupa bahwa ini adalah sebuah yang mau tidak mau harus mereka hadapi. Mereka tidak bisa menghindar, protes kepada siapa pun atas kondisi ini. Jadi terimalah, dan berubahlah!

Tak Terelakkan

Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) sedang mengepung kita. Indonesia, sebagai negara berkembang, termasuk negara dengan pengguna internet yang tinggi. Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) mengumumkan jumlah pengguna internet Indonesia tahun 2024 mencapai 221.563.479 dengan  penetrasi internet Indonesia menyentuh angka 79,5%. Mayoritas penduduk Indonesia mengakses internet melalui telepon genggam (handphone). Fenomena ini menjadikan Indonesia menjadi sasaran pemasaran produk TIK teknologi terbaru. Berdasarkan pengamatan penulis, warga Eropa cenderung mempertahankan handphone jadul yang masih berfungsi baik. Ini berkebalikan dengan warga Indonesia yang gemar gonta-ganti handphone edisi terbaru. 

Apakah hal ini merupakan malapetaka atau kemajuan yang perlu kita ikuti? Penulis pikir kita perlu mengamati fenomena ini untuk kita teliti sebagai sebuah gaya hidup atau lifestyle yang terbaru. Orang terlihat perlente jika menggunakan teknologi komunikasi terbaru. Situasi ini tidak lagi berelasi dengan pandangan  Mark Poster (1990) dalam buku berjudul The Second Media Age yang menandai periode baru dimana teknologi interaktif dan komunikasi jaringan khususnya dunia maya akan mengubah masyarakat. Handphone telah berubah menjadi fashion of style, sebagai bagian dari gaya hidup, yang bisa menjadi sebuah tolok ukur kelas sosial seseorang. Alat sekecil itu bisa menandakan kelas sosial seseorang. 

Wajarlah jika pada masa Lebaran bukannya ramai ke masjid, tapi ramai menyesaki toko handphone, mereka membelanjakan uang angpau dengan handphone jenis terbaru. Ini fenomena baru, toko yang menjual aksesoris handphone akan mewajibkan karyawan untuk masuk. Fenomena ini selalu penulis saksikan tiap kali berlebaran ke daerah.

Uang Elektronik

Teknologi juga mengubah transaksi keuangan, termasuk angpau Lebaran. Uang tidak melulu berupa fisik namun berupa uang elektronik. Beberapa bank telah mengubah transfer seseorang menjadi angpau digital. Bentuk angpau tidak melulu memakai uang kertas terbaru yang ditukarkan sebelum Lebaran, saat ini sebagian orang Indonesia sudah memakai teknik mentrasnfer uang angpau melalui transfer antar-bank atau mengisi (top up) e-wallet (gopay, ovo, shopee pay dan lain-lain). 

Situasi ini mempengaruhi peta transaksi perbankan. Bank Indonesia melaporkan bahwa nilai transaksi uang elektronik pada Maret 2023 (masa Ramadhan & Lebaran) meningkat sebesar 11,39% secara tahunan (year-on-year/yoy) menjadi Rp34,1 triliun. Nilai transaksi digital banking mencapai Rp4.994,1 triliun atau tumbuh sebesar 9,88% yoy pada Maret 2023.

Fenomena ini merupakan contoh dari kondisi yang tak bisa kita elakkan terhadap fenomena determinisme teknologi. Kita tidak bisa menahan, mencegah, atau menghalangi perkembangan ini. Jika kita lebih bijak menggunakan teknologi komunikasi dan informasi (TIK), maka dunia ada di genggaman kita. Kita tidak, maka akan mudah diperbudak atau dipermainkan oleh perkembangan teknologi ini. 

Agenda ke Depan

Langkah apa yang bisa kita lakukan dengan perkembangan TIK ini? Pertama, menjadi tuan rumah di negara sendiri atas perkembangan TIK ini. Kita tidak bisa hanya menjadi konsumen atau pengguna dari teknologi ini. Indonesia memiliki SDM potensial untuk menjadi pencipta teknologi. Perlu diciptakan sebuah kawasan seperti halnya Silicon Valley di Amerika Serikat, atau sentra-sentra penciptaan dan pengoptimalan teknologi terbarukan. Tempat ini tidak harus di kota metropolitan, bisa di kawasan terpencil, pelosok, jauh dari mana-mana. 

Kedua, perkembangan TIK jangan sampai mengubur tradisi. Pemanfaatan TIK saat Lebaran hanyalah sebagai pelengkap (suplemen) silaturahmi, bukannya menggantikan fungsi atau makna perjumpaan fisik di hari nan fitri. Halal bihalal dan sungkeman secara fisik tetap perlu dilakukan. Ketiga, Sebaiknya ucapan selamat secara digital ditujukan kepada keluarga, teman, kerabat atau kolega yang jauh sehingga tak terjangkau secara fisik. Tak perlulah memberikan ucapan selamat Lebaran secara digital untuk tetangga satu RT, misalnya, yang masih bisa terjangkau untuk dikunjungi secara langsung. Di sinilah TIK menggantikan kehadiran fisik kita. ***

Yayan Sakti Suryandaru | Dosen Departemen Komunikasi, FISIP Unair, Surabaya

Tags:

Share:

Related Post

Tinggalkan komentar