Komunikasi Non-Verbal, Tumbuhkan Citra pada Individu/Kelompok/Lembaga

Yayan

0 Comment

Link

Komunikasi Non-Verbal, Tumbuhkan Citra pada Individu/Kelompok/Lembaga

Menarik, komunikasi bisa berlangsung secara verbal maupun non-verbal. Jarang sekali komunikasi non verbal menjadi penyebab atas kondisi tertentu. Seringkali kata-kata atau kalimat itu dianggap lebih penting daripada simbol, mimik, gestur pada tubuh manusia. Namun, selama hampir dua tahun ini muncul sejumlah tindakan komunikasi non-verbal yang menarik untuk dianalisis. 

Salah satunya adalah perhelatan Pilkada beberapa waktu yang lalu menimbulkan serangkaian kasus yang menarik untuk dipaparkan di dalam tulisan ini. Apa yang terjadi di Jawa Tengah menarik untuk dikuliti. Ada dua kandidat yang disebut perang bintang antara IrjenPol Ahmad Luthfi, mantan kapolda Jawa Tengah melawan Jenderal TNI (Purn) Andika Perkasa, mantan Panglima TNI. Hampir semua orang merasa Andika yang akan menang. Jawa Tengah dikenal sebagai Kandang Banteng, partai yang mengusung Andika Perkasa (PDI-P) menjadi keyakinan kemenangan akan diraih. Tetapi apa yang terjadi di luar perkiraan kita, Andika kalah di kandang banteng itu. 

Penampilan sosok Andika selama berkampanye bisa dianalisis kurang mendapatkan simpati dari masyarakat Jawa Tengah, masyarakat yang dikenal halus kata-kata, perlaku, berbudi luhur, dan enggan memamerkan “kekuatan fisiknya”. Andika selalu menggandeng isterinya dalam kampanye, dengan baju ketat dengan kancing atas terbuka, memamerkan otot tubuhnya yang kekar mengisyaratkan dia suka berolahraga fitness. Hal ini antipati pada masyarakat kita yang tidak suka orang lain pamer kekuatannya. Ingat kasus di Kalimantan Ketika ada orang Madura memakai golok, menunjukkan kepada orang Dayak? Hal itu menimbulkan kemarahan Suku Dayak yang merasa dirinya sebagai tuan rumah di Bumi Kalimantan, berujung pembunuhan besar-besaran pda Etnis Madura saat itu. Sama dengan situasi ini, justru pemilih yang berusia produktif dan anak muda tidak suka tampilan yang menyukai bentuk tubuh seseorang. Hal ini terlihat dalam hasil Pilkada, Andika keok di tanah markas PDI-P alias Kandang Banteng.

Tiga Presiden Bertemu, Rakyat Optimis

Pada saat ulang tahun Partai Demokrat, muncul tiga tokoh penting Indonesia. Ada Mantan Presiden SBY & Jokowi, serta Presiden Prabowo duduk berdampingan sebelum acara itu dimulai. Simbol ketiganya berkumpul, menimbulkan kesan mereka akrab, ketawa-ketiwi, berangkulan, dan menunjukkan rasa hormat satu dengan yang lain. Makna yang tercipta di saat kondisi perekonomian negara kocar-kacir, kita optimis menghadapinya. Rakyat yang melihat kondisi ini pasti juga merasa optimis untuk menghadapi segala beban kehidupan.

Bertemunya ketiga tokoh ini bukannya tanpa makna. Di masa sebelumnya, momentum seperti ini jarang terjadi. Prabowo mampu menyatukan kedua presiden sebelum dia untuk saling berkntribusi. Memang harus diakui ketiganya berkoalisi dan saling mendukung dalam Pilpres yang lalu. Tetapi ada makna lain yang muncul pada saat mereka bertemu. Ketiganya menyimbolkan satu kekuatan yang dahsyat dari bangsa ini dalam menghadapi segala persoalan kebangsaan. Ketiganya menandakan adanya persatuan diantara mereka untuk menghadapi persoalan kenegaraan yang sedang dan akan dihadapi oleh negara ini.

Tanpa perlu kata-kata yang bombastis, Ketika ketiganya berkumpul maknanya sangat kuat. Ketiganya menimbulkan kekuatan lima tahun dari sekarang dan sampai kapanpun mereka berkoalisi. Ini juga bisa dicontoh oleh pengikutnya di semua wilayah RI. Jika ini bisa terjalin, kekuatan besar akan selalu tercipta di setiap wilayah tersebut. Kekuatan ini diharapkan bisa mengalahkan siapapun. Baik di semua bidang ketiganya bisa saling bahu-membahu untuk merumuskan satu kekuatan besar dalam membangun negara ini.

Gerakan Silat Basmi Koruptor

Menarik melihat gerakan silat Presiden Prabowo Ketika ditanya tentang korupsi di tubuh Pertamina. Lewat gerakan pencak silat, presiden menunjukkan akan menyikat habis koruptor di negara ini. Ini menandakan kekuatan, kegeraman, dan keberanian untuk menumpas semua bentuk penyelewengan di negara ini. Memang Prabowo merupakan Ketua Umum IPSI (Ikatan Pencak Silat Indonesia), tetapi gerakan itu bermakna optimisme dan keberanian memberantas koruptor. Tidak ada kata maaf dan ampun bagi koruptor. Semua akan diusut dan diadili seberat-beratnya, dimanapun dia melakukan kejahatan itu. Hal ini bermakna sangat mendalam dan merupakan komitmen yang kuat bagi rezim Prabowo-Gibran dalam menghadapi kasus-kasus korupsi.

Memang pidato tentang korupsi banyak diperdengarkan oleh setiap pejabat Ketika memberikan kata sambutan. Semua seolah penuh komitmen dan kesungguhan untuk memberantasnya; penuh formula dan aksi yang ditunjukkan dalam penumpasannya. Kadang-kadang kita bertanya, kapan kita bisa memberantas praktek-praktek penyelewengan itu sampai ke akar-akarnya. Rasanya tidak ada rasa jemu dari negara ini untuk memberantas kasus-kasus korupsi. Satu lembaga khusus (KPK) dibentuk untuk menyelidiki kasus-kasus korupsi. Bahkan, pelajaran di sekolah mengajarkan tentang apa dan bagaimana korupsi itu, dan bagaimana cara negara ini menekan agar angkanya tidak semakin membumbung tinggi. Ini sebagai upaya agar generasi kita tidak canggung atau merasa asing terhadap kasus-kasus penyelewengan ini.

Makna Kembali Mengikuti Retret bagi Kepala Daerah dari PDI-P

Penulis ingin membahas fenomena para pemimpin daerah yang berasal dari PDI-P sempat dilarang mengikuti Retret oleh sang pemimpin parpol, Megawati Soekarnoputri. Mereka yang sudah atau dalam perjalanan menuju Magelang (markas Akmil) sebagai venue kegiatan pembekalan untuk mereka, terpaksa mengurungkan diri. Tetapi apa yang terjadi pada 4 hari pelaksanaan Retret, serombongan kepala daerah yang dipimpin oleh Pramono Anung, sebagai senior di tubuh PDI-P mengikuti kegiatan Retret itu. 

Kembalinya sekitar 40 orang dari PDI-P menimbulkan kesan PDI-P tidak secara nyata memusuhi rezim ini. PDI-P hanya menjadi penyeimbang dari kekuatan koalisi Prabowo-Gibran dalam menjalankan segara program pembangunan negara ini. Hal ini juga semakin membuktikan tidak ada istilah partai oposisi di negara ini. Mereka yang berseberangan dengan partai yang berkuasa hanya menjadi pengkritik, pihak yang meluruskan, pemberi masukan kepada kebijakan yang akan diambil oleh partai berkuasa beserta koalisinya. Secara tidak langsung PDI-P juga sebuah partai yang mampu berbesar hati untuk menyukseskan semua kegiatan dari pemerintah meskipun telat mengikuti, mereka berkomitmen menyelesaikan seluruh kegiatan itu. Ini juga bermakna bahwa seluruh komponen bangsa menyatu dan tidak mampu dicerai-beraikan oleh satu isu tertentu. Wallahualam Bissawab.***

Yayan Sakti Suryandaru | Dosen Departemen Komunikasi, FISIP Unair, Surabaya

Tags:

Share:

Related Post

Tinggalkan komentar