Komunikasi Lingkungan di Indonesia: Membangun Kesadaran, Mengubah Perilaku, dan Menjaga Keberlanjutan

Yayan

0 Comment

Link
BUKU KOMUNIKASI LINGKUNGAN DI INDONESIA 2026

(BUKU) Komunikasi Lingkungan di Indonesia: Membangun Kesadaran, Mengubah Perilaku, dan Menjaga Keberlanjutan

BUKU KOMUNIKASI LINGKUNGAN DI INDONESIA 2026

Buku ini bukan sekadar sebuah karya akademik biasa, melainkan sebuah manifestasi dari pemikiran kritis, kepedulian sosial, dan komitmen ekologis generasi muda. Seluruh isi dalam buku ini merupakan kumpulan tulisan yang berasal dari tugas-tugas mahasiswa mata kuliah Komunikasi Lingkungan Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga, Surabaya. Kehadiran karya ini menjadi bukti nyata bahwa ruang kelas mampu bertransformasi menjadi laboratorium pemikiran yang responsif terhadap krisis planetari yang sedang dihadapi oleh bangsa ini.  

Di tengah situasi global yang kian dicengkeram oleh perubahan iklim, degradasi lahan, dan hilangnya keanekaragaman hayati, komunikasi lingkungan memegang peran yang sangat krusial. Komunikasi bukan lagi sekadar instrumen untuk menyampaikan informasi atau pesan-pesan pelestarian alam secara linier. Lebih dari itu, komunikasi lingkungan adalah ruang kontestasi makna, tempat di mana kebijakan dinegosiasikan, kesadaran publik dibentuk, dan gerakan sosial di sulut. Melalui lensa ilmu komunikasi, isu-isu ekologis tidak lagi dipandang sebagai persoalan teknis saintifik semata, melainkan sebagai persoalan sosial-politik yang melibatkan banyak kepentingan. Mahasiswa mencoba membedah kompleksitas tersebut dengan memetakan dinamika komunikasi lingkungan di Indonesia ke dalam tiga pilar utama yang menyusun struktur buku ini.  

 

Bagian I: Disaster Discourse dalam Teks Media 

 

Pada bagian pertama, pembaca diajak untuk menyelami bagaimana media massa dan teks sastra mengonstruksi, membingkai, dan memproduksi wacana seputar krisis serta bencana lingkungan. Media memiliki kekuatan hegemonik untuk menentukan isu apa yang dianggap penting oleh publik dan bagaimana isu tersebut harus dipahami. Bagian ini dibuka oleh Bilqis Azzahra Cemara yang membedah pembingkaian media terhadap isu deforestasi akibat industri kelapa sawit melalui Analisis Wacana Kritis pada media Antara, Mongabay, dan Tempo. Selanjutnya, analisis beralih pada teks sastra, di mana Kafka Augusta Salim melakukan analisis naratif terhadap isu lingkungan dalam novel “Si Anak Pemberani” karya Tere Liye, disusul oleh Tigas Wakhris Rahardika yang mengulas representasi krisis lingkungan dalam novel “Di Kaki Bukit Cibalak” karya Ahmad Tohari. Kehadiran analisis sastra ini menunjukkan bahwa narasi ekologis juga hidup dan digerakkan melalui karya fiksi.  

 

Tidak berhenti di situ, perlawanan struktural masyarakat adat juga disoroti oleh Davinka Tiara Widiputri melalui analisis naratif terhadap liputan Mongabay Indonesia mengenai perjuangan hukum Suku Awyu melawan ekspansi perkebunan sawit di Papua Selatan. Sementara itu, dimensi politik bencana dikritisi secara tajam oleh Muhammad Sabian Alfaatar W. melalui Analisis Wacana Kritis terhadap liputan media daring mengenai bencana banjir Aceh-Sumut-Sumbar 2025, yang memunculkan wacana “Gagap Kepala Daerah” dan hegemoni pusat. Bagian pertama ini ditutup oleh Eka Nugraha dengan analisis Robert N. Entman mengenai pembingkaian aktivisme lingkungan anak muda (Pandawara Group) di Kompas.com dan Tempo.co, memperlihatkan bagaimana media arus utama merespons gerakan swadaya pemuda. 

 

Bagian II: Isu-Isu Sustainability dalam Praktik Komunikasi Lingkungan 

 

Beralih ke bagian kedua, fokus buku ini bergeser pada konseptualisasi dan implementasi keberlanjutan (sustainability) dalam kehidupan sehari-hari, khususnya di kalangan generasi muda. Generasi muda sering kali disebut sebagai agen perubahan, dan bagian ini mengeksplorasi sejauh mana label tersebut mewujud dalam praktik nyata. Irsyaq Fahrevi, Rama Al Fareta, Bilqis Azzahra Cemara, dan Alisya Rahmawati mengawali bagian ini dengan mengulas peran generasi muda dalam aksi kolektif dan kampanye lingkungan untuk mendukung sustainability. Konstruksi identitas hijau yang lebih mikro dan lekat dengan gaya hidup urban dibahas oleh Abrianna Indira Saraswati, Vanessa Aurelia Syifa’s, dan Muhammad Za’im Rashif melalui analisis praktik komunikasi hijau pada budaya water refill dan paperless.  

Pondasi penting dari gerakan ini, yaitu literasi, dibahas oleh Tigas Wakhris Rahadika, Eka Nugraha, Kafka Augusta Salim, dan Jeftayes Gerhard H.S. yang memetakan peran pendidikan dan komunitas dalam penguatan literasi lingkungan generasi muda. Implikasi dari komunikasi lingkungan yang digerakkan oleh pemuda ini kemudian ditarik ke dalam konteks yang lebih luas oleh Moh Rofiul Ikhsan, Athaya Fawwaz Navendra, Audrey Nathania Pakpakan, dan Lafidan Rizata Fernandita untuk melihat pengaruhnya bagi agenda sustainability global. Di era digital, kampanye lingkungan tidak dapat dilepaskan dari peran pembuat konten (content creator), yang dianalisis oleh Alif Muhammad Rafi R, Moch. Syehan Firmansyah, Siti Husnaini Fiddiniyah, dan Yang Ramadia Nurya S. melalui studi konten Jerhemy Owen di media digital. Namun, jalan menuju keberlanjutan tidak selalu mulus; Andike Qanitah Zalfa, Alya Raniah Dinata, Davinka Tiara Widiputri, dan Galih Pramana Putra menutup bagian ini dengan mengulas tantangan dan hambatan komunikasi lingkungan pada pemuda, mulai dari apatisme, bahaya disinformasi, hingga kesenjangan akses informasi. 

Bagian III: Aktivisme Komunitas Akar Rumput dalam Komunikasi Lingkungan 

 

Bagian ketiga sekaligus penutup dari bunga rampai ini membawa kita pada episentrum gerakan lingkungan yang paling otentik: komunitas akar rumput dan masyarakat adat. Di sinilah komunikasi lingkungan mewujud menjadi sebuah tindakan perlawanan dan pemulihan yang nyata. Bagian ini dibuka dengan heroisme digital oleh Fachri Afilia Kharuri yang meneliti gerakan dari Papua ke ruang digital melalui aktivisme #AllEyesOnPapua dalam perjuangan Suku Awyu menjaga hutan adat mereka. Praktik komunikasi lingkungan berbasis komunitas urban juga dihadirkan oleh Alya Raniah Dinata yang memotret strategi menghijaukan ruang terbatas di RW 06 Malaka Sari, di Indonesia Jakarta Timur. Selanjutnya, Bilqis Azzahra Cemara Bilya memaparkan pentingnya komunikasi partisipatif dalam gerakan pelestarian mangrove lewat studi kasus KeSEMaT di Semarang.  

Kekuatan kearifan lokal masyarakat adat Indonesia mendominasi paruh akhir bagian ini. Audrey Nathania Pakpahan mengulas komunikasi lingkungan Masyarakat Adat Samin dalam Gerakan Kendeng, sementara Sagung Indira Paramitha membawa perspektif kemitraan melalui strategi komunikasi Nuanu Social Fund dalam pelestarian pesisir Bali. Perjuangan ruang hidup masyarakat adat luar Jawa juga terekam kuat melalui tulisan Tigas Wakhris Rahandika mengenai strategi komunikasi Dayak Iban Sungai Utik dalam memperjuangkan hutan adat mereka. Tak ketinggalan, isu penyelamatan ekosistem sungai krusial dibahas oleh Kafka Augusta Salim yang mengulas strategi komunikasi lingkungan dan gerakan komunitas untuk memulihkan Sungai Bengawan Solo. Buku ini ditutup dengan indah oleh tulisan Yang Ramadia Nurya Syifa yang merefleksikan bagaimana aktivisme lingkungan Masyarakat Adat Baduy menjadi sarana menjaga alam sekaligus merawat identitas di tengah arus modernisasi yang kian deras.  

Sebagai tim editor, kami merasa bangga dan terhormat dapat menyunting pemikiran-pemikiran segar yang lahir dari rahim akademik Universitas Airlangga ini. Tulisan-tulisan dalam buku ini menunjukkan bahwa mahasiswa tidak hanya mampu menguasai teori-teori komunikasi yang rumit, tetapi juga mampu mengkontekstualisasikan ke dalam realitas empiris yang ada di Indonesia. Kami menyampaikan apresiasi dan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh mahasiswa kontributor yang telah mencurahkan ide, tenaga, dan komitmennya hingga buku ini dapat terwujud. Ucapan terima kasih juga kami sampaikan kepada Departemen Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Airlangga atas dukungan moral dan ekosistem akademik yang suportif selama proses perkuliahan Komunikasi Lingkungan berlangsung.  

Akhir kata, kami menyadari bahwa buku bunga rampai ini tentu tidak luput dari kekurangan. Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun dari para pembaca sangat kami harapkan demi penyempurnaan karya-karya di masa depan. Kami berharap buku ini dapat menjadi referensi yang berharga bagi para akademisi, praktisi komunikasi, aktivis lingkungan, pembuat kebijakan, serta siapa saja yang peduli terhadap masa depan bumi Nusantara. Selamat membaca! 

 

Surabaya, Juli 2026 

Tim Editor Ratih Puspa, Ph.D. 

Dr. Andria Saptyasari Intan Fitranisa, S.I.Kom., M.Med.Kom 

Dr. Yayan Sakti Suryandaru

Tags:

Share:

Related Post

Tinggalkan komentar